Minggu, 05 September 2021

Menemukan Motivasi Menulis Dalam Komunitas Literasi

 

 #Tugas_dengan_tema_mengapa_menulis

                                                                                              Sumber gambar: Wholeshare.com

 

            Menulis adalah wisata hati bagi seorang yang menyukainya. Menulis juga merupakan upaya seseorang dalam mengungkapkan pikiran dan juga perasaan dalam sebuah goresan pena yang bisa dibaca dan dinikmati oleh pembacanya. Yang pasti menulis mempunyai banyak manfaat yang dapat diperoleh oleh penulis sendiri juga bagi banyak orang. Menulis berarti menuangkan isi hati si penulis ke dalam bentuk tulisan, sehingga maksud hati penulis bisa diketahui banyak orang orang melalui tulisannya.

            Namun menumbuhkan dan menjaga untuk selalu memiliki motivasi menulis bukan perkara mudah, bahkan kadang bagi seorang penulis sekalipun ada saat kehilangan ide menulis dan tentunya membutuhkan kembali motivasi untuk mengembalikan mood agar ide-ide menulis dalam mengalir kembali seperti biasa. Apalagi bagi yang belum bisa dikatakan sebagai penulis, bukan hanya kehabisan ide tetapi semangat untuk menulis ikut hilang dan sudah bisa diprediksi akan stag entah berapa lama untuk memulai menulis kembali.

            Untuk membangun semangat dan konsistensi dalam menulis seseorang membutuhkan dorongan dari luar diri, semisal lingkungan yang kondusif semacam sebuah komunitas menulis. Sebagai penulis pemula atau belum bisa dikatakan sebagai penulis karena jam terbang belum banyak, komunitas menulis merupakan wadah untuk membangun konsistensi dalam menulis. Banyak sekali ilmu-ilmu terkait kepenulisan yang akan diperoleh dalam dunia tulis menulis ini.

Komunitas Menulis ODOP (One Day One Post) adalah salah satunya. Karena ODOP memberikan ruang bagi semua yang ada di dalamnya untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki dalam dunia literasi dan juga memberikan banyak kesempatan untuk belajar. Ketika memutuskan untuk mengikuti komunitas ini, ada keraguan yang muncul bagi para pemula dalam tulis menulis seperti saya, untuk bisa mengikuti rules yang ada dalam program-program yang ditawarkan. Ketakutan akan ketidakmampuan untuk bisa konsisten dalam menulis, ketakutan akan mengalami kemandegan dalam melahirkan ide-ide yang akan dituangkan dalam sebuah tulisan. Membuat keraguan semakin membayangi.

            Namun setelah menyelam lebih dalam ke komunitas ODOP ini, ketakutan itu menjadi tidak beralasan. Di komunitas ini,  para anggota membagikan hasil tulisan mereka. Flatform yang digunakan untuk mempublish  tulisan menggunakan blog. Sebuah ruang menulis yang sudah sejak kapan saya lupakan. Dan di ODOP setiap hari selama 40 hari harus megisi blog ini dengan tulisannya. Dan tentu saja anjuran untuk saling mengomentari dan memberikan masukan yang sifatnya membangun. Dari situ, kita dapat membaca tulisan penulis dari berbagai tingkatan, dari yang sudah senior sampai yang masih sangat pemula seperti saya.

            Ada harapan besar bagi saya, komunitas ODOP ini menjadi komunitas yang besar. Yang mampu melahirkan penulis-penulis hebat yang semua berangkat dari titik bawah. Tergantung siapa yang lebih keras belajar dan berusaha dia pulalah yang bisa melesat lebih jauh. Karena kemampuan seseorang dalam menuangkan isi hatinya ke dalam sebuah tulisan sangatlah berbeda, dipengaruhi oleh latar belakang penulis. Maka kedepan, diharapkan ada berbagai pelatihan-pelatihan yang mengakomodir keingianan, hobi dan minat yang dimiliki oleh anggotanya.

             Mengkampanyekan dunia literasi ini juga keberbagai kalangan, bukan hanya melalui jalur online tetapi kelak setelah pandemi ini berakhir bisa dilaksanakan secara offline. Tentu saja dengan memperhatikan kewilayahan. ODOP juga semoga bisa mengkampanyekan kepada banayak orang, untuk menjadikan menulis sudah menjadi kegiatan kita sehari-hari. Dengan memberikan motivasi untuk menekuni dunia menulis, tentu menghimbau untuk terus giat dan tekun untuk belajar. Terdapat berbagai macam cara, mulai dari menulis secara rutin, membaca buku, dan meminta orang untuk mengomentari hasil tulisan kita.

            Memberikan kritik membangun bagi calon penulis atau penulis pemula dalam karya yang ditampilkan. Dengan kritik, tentu akan jadi tahu letak kesalahan dan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi. Jika sebuah komunitas yang memberikan kritik membangun akan mudah diterima oleh orang lain, beda jika individu yang melakukan kritikan tersebut. Jadi jika ingin memiliki konsistensi dalam menulis, ayo masuk komunitas menulis, dan ODOP (One Day One Post) salah satunya.

Sabtu, 04 September 2021

Menulis Jalan Ninjaku Menghalau Kegabutan

 

         (Cerpen Fiksi)

 

                                                                                   

            Suatu siang di hari libur, kala kegabutan maksimal melanda, aku bingung harus melakukan apa. Mama pergi dengan gengk sosialitanya ke gang sebelah, bercengkrama untuk mengapdet informasi terkini tentang banyak hal, karena mereka tergabung dalam Asosiasi emak2 gang Senggol Untuk Percepatan Informasi (ASUPIN) katanya, percakapan mereka tentu saja beragam, karena moto mereka mempercepat arus informasi emak-emak penghuni gang senggol ini. Mulai dari kasus narkoba yang menimpa para pesohor, perihal kawin cerainya, harga ayam potong yang mengalami kenaikan, tentang bu Amran yang suka minta bumbu dapur ke rumah tetangga setiap hari sampai pada vaksin yang bisa untuk keluar negeri itu jenis apa, padahal lihat pesawat aja mama bilang sudah pusing. Akrofobia katanya. Ada juga kosa kata keren yang nyangkut di kepala  mama, hehehe. Ah jadi ikut ghibahin mama dan genk nya deh.

            Dalam kegabutan akut  yang melanda ini, tak ada niatku untuk membuka buku-buku pelajaran, apalagi mengerjakan PR yang seabreg-abreg itu, seolah dalam era daring ini para guru berlomba-lomba memberikan tugas-tugas mata pelajarannya. Sepertinya semakin banyak memberikan tugas semakin terlihat keren, setidaknya itu opiniku sebagai siswa, agak sedikit kurang ajar sih ya.

             Hari libur seperti ini, berselancar ke dunia maya adalah pilihan yang tepat dari pada belajar, menurutku, padahal dengan menengok medsos, aku seringkali melihat status media sosial teman-teman yang kadang membuat iri. Mereka kerap memposting acara mereka bersama keluarga yang terlihat asik, dengan view pegunungan yang asri, sepertinya mereka sedang pergi jalan-jalan. Ada yang tengah membeli barang branded, adapula status teman yang sedang galau akut, karena sempat melihat gebetannya nge love medsos wanita lain. Ah, lama-lama tetep bosan juga, ga  membuatku menarik. Sampai kemudian ponselku berdering, tertera nama seorang teman yang aku merasa tidak dekat dengannya, Ratih, tetangga beda gang, tetapi kami bersekolah di tempat yang sama sejak SD.

[Assalamualaikum Hana, maaf mengganggu]

[Waalaikumsalam Ratih, ga apa-apa, ada apa ya, Tih?]

{Han, mau bantu aku ga?, aku kan selama ini suka banget menulis, ikut beberapa grup kepenulisan dan alhamdulillah, beberapa kali juga menjuarai lomba-lomba menulis gituh]

[Wah, keren ... selamat yaa]

[Haish bukan begitu, aku tau kamu juga suka menulis dari Ratna, walau kata dia kamu ga suka publish hasil tulisan kamu, nah aku mau minta tolong nih, bantuin aku ya ikut lomba menulis karya ilmiah, anggotanya minimal dua orang, waktunya mepet dan cuma  kamu yang dekat rumahnya denganku, jadi kita bisa mudah berdiskusi]

            Akhirnya, dengan sedikit terpaksa, karena ga enak untuk menolak, aku mengikuti ajakan Ratih untuk lomba tersebut bersamanya. Awalnya agak kesulitan memahami seperti apa karya ilmiah tersebut, karena selama ini hobi menulisku sebatas  menulis caption dalam media sosial, meski memang beberapa kali tulisan gaje ku nangkring di blog OSIS. Tapi kurasa bukan karena bagus, hanya karena tidak ada yang berminat menulis di sana.

            Belajar menulis karya ilmiah populer ini  memaksa seluruh kerja otakku lebih keras berfikir. Ratih dengan sabar dan telaten menjawab semua pertanyaan yang aku ajukan kala tidak mengerti. Saat itu kami belajar bersama selepas pembelajaran daring. Beruntung masih belajar daring, karena tenaga juga tidak ikut terkuras seperti kerja otakku ini akibat menulis karya ilmiah.

            Tiba saat pengumunan hasil seleksi abstrak, lomba yang diadakan salah satu kampus bergengsi ini menampilkan pengumumannya di web yang telah ada dalam poster perlombaan. Hal yang tidak pernah terfikirkan bahwa nama kami keluar sebagai salah satu pemilik karya ilmiah yang lolos seleksi abstrak dan berhak masuk ke babak perlombaan selanjutnya. Apa coba yang aku rasakan? Seneng? Kaget? Ah pokokmya gabungan dari semua itu. Ku peluk Ratih dengan perasaan, entah. 

           Walau akhirnya kami bukanlah menjadi pemenang, tapi perlombaan ini menyadarkan diri bahwa kegabutan itu bisa diisi dengan sesuatu kegiatan yang bermanfaat. Banyak kegiatan yang dapat kita lakukan untuk memberikan manfaat bukan hanya bagi diri sendiri tapi juga untuk banyak orang. Ratih, kemudian menjadi sahabat yang dekat denganku sampai bertahun-tahun kemudian. Kebiasaan  mengikuti lomba-lomba kepenulisan membuat kami terbiasa menulis. Di masa kuliah, meski berbeda kampus, kegilaan kami dalam menulis tidak pernah pudar. Dan ternyata benar menulis menjadi jalan ninjaku kala kegabutan yang melanda, bahkan ketika tidak sedang gabut sekalipun, menulis adalah candu tepatnya bagi kami. Terima kasih Ratih telah mengenalkan aku, seorang Hana Maharani ke dalam dunia tulis menulis.
 
 

Jumat, 03 September 2021

Dua Sisi Warna

   

 

       Awal mula menyadari warna ini mulai menghiasi rambutku, ada sedikit panik mendera. Satu, dua, tiga ...ah masih bisa terhitung jumlahnya diawal memasuki usia matang. Tak terlalu panik, masih bisa dicabut (walau harusnya tidak boleh dilakukan) dengan dalih, ini hanya rambut yang bermasalah tak apa dihilangkan. Tapi kemudian muncul lagi, lima, enam, sepuluh dan terus bertambah, bukan lagi sebagai rambut yang bermasalah, tapi memang sunatullah ada karena pertambahan usia. Walau tak akan sama usia berapa muncul warna pada rambutnya, tetapi dapat diambil rerata, memasuki usia 35 tahun akan mulai familier dengan warna putih pada rambut di kepala.

                        ***

Uban adalah munculnya warna putih pada rambut karena sebab tertentu, penambahan usia, keturunan atau kerusakan pada rambut. Umumnya karena memasuki usia tertentu.

                       ***

     Karena berkaitan dengan usia, sejatinya penambahan uban pada rambut, harus memunculkan sikap dewasa dalam bertindak, kontrol emosi dengan baik juga dan tentu saja mulai lebih berfikir setiap menit yang dilakukan harus bernilai ibadah. Meski, bicara kedewasaan tak melulu berbanding lurus dengan mulai adanya uban di kepala, namun dengan adanya warna tersebut mengisyaratkan bahwa usia tak lagi muda, tak lagi bisa bertingkah layaknya anak-anak muda yang tak bisa mengartikan tujuan hidup. Meski pada kenyataanya tak semua bisa seideal itu. 

     Seperti banyak orang beropini, adanya beraneka warna dalam menjalani fase di dunia ini memunculkan ritme kehidupan menjadi lebih hidup, lebih beragam, dan harusnya lebih memunculkan sikap saling menghargai. Warna menghadirkan nuansa yang ramai namun damai, indah dan sinergi. Walau warna gelap dianologikan dengan kesedihan, namun bila dikelilingi warna-warna cerah akan lebih teredam perasaan yang tak seharusnya ada dan mengganggu itu. Begitupun dengan hadirnya uban, perlu ada selebrasi kebahagiaan begitu menyadari hadirnya, bahkan mulai mendominasi warna hitam yang ada.

     Terima kasih Allah, masih memberi kesempatan dalam menikmati rentang usia yang memasuki masa kematangan, atau ketuaan??? ah ... tengoklah, uban sudah mulai ajak teman-temannya berkumpul di kepala. Tandanya usia mulai beranjak menuju senja.


Kamis, 02 September 2021

Ingin Cepat Lulus Kuliah Ga Ada Kata Tapi

      
                                                                           Doc. Pribadi
 
 
        Kayanya hampir ga ada satu orangpun yang dalam menempuh studi nya mau berlama-lama kecuali kalo ada gebetan mahasiswa baru pas kita semester akhir karena takut diambil orang maka kuliahnya di lama-lamain..#eaaa. Normalnya semua mahasiswa ingin proses belajar mencapai hasil yang maksimal dalam waktu yang sesingkat-singkatnya tanpa ada halangan dan rintangan yang berarti atau kalo bisa ga ada halangan sama sekali meski halangan sekedar males beranjak dari depan layar gadget pas jam kuliah dimulai, tapi kadang keinginan berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada, justru banyak teman-teman yang pada awal-awal perkuliahan semangat membara, sampe-sampe awal semester baru perpustakaan penuh, BAAK penuh untuk cari jadwal, pindah dosen sampe hunting-hunting beasiswa, ahaha (yang ini aku banget). Tapi lama-lama kantin dan foodcourt yang penuh. Awal-awal perkuliahan ngerjain tugas banyak pun ga masalah, rela-rela minjem laptop or printer atau berburu wifi gratisan (yang ini era sekarang, era ku dulu ga musim yang begini) bahkan sampe tahan berlama-lama di warnet, meski kalo paket 5 jam, 2 jam untuk browsing tugas, 3 jamnya untuk main game n bermedsos ria. 
        Ga heran di awal kuliah rata-rata IP (indeks prestasi) lumayan bagus, semakin banyak jumlah semester semakin berkurang besaran angka pertama di IP, alesannya mata kuliah makin sulit padahal logikanya semakin tinggi kan bekal ilmu nya dah dikasih di awal-awal semester, kaya jaman SMA memandang kuliah itu pasti sulit tapi kenyataannya tetep aja sulit ... hahahha. Nah secara umum hal-hal kemunduran di atas itu di sebabin beberapa poin di bawah ini :
 
1. Menurunnya motivasi belajar karen semakin tinggi tingkat di perkuliahan semakin cape naik tangganya, #ehapasih, maksudnya semakin lama kuliah dijalanin sebagimana fitrahnya manusia terhadap sesuatu pasti ngerasa jenuh terhadap ruitinitas yang dijalanin, bayangin S1 kan di tempuh paling cepet 3.5 tahun (gue banget juga ini, hihihi) paling lama ya selama-lamanya sampe dapet teguran dari kampus bahwa akan ada pemutihan bagi mahasiswa yang jatah waktu kuliahnya udah abis. dan emang biasanya di semester-semester akhir itu rasa bosen mulai menyerang dengan hebat apalagi kalo pas di masa-masa itu cuma kita yang jomblo, bingung nanti mau bawa siapa untuk jadi PW (pendamping wisuda-red). 
Intinya banyak hal hambatan yang terjadi baik secara ekternal maupun internal, permasalahan eksternal diantaranya biaya, jarak tempuh atau kondisi kurang baiknya relationship dengan oranglain misal dosen, teman bahkan orangtua, faktor internal bisa berupa rasa malas, bosan dan merasa sulit materi yang di terima, dan lain sebagainya. Padahal masalah yang timbul ini kan sebenernya melanda hampir semua mahasiswa dan nyatanya banyak juga yang bisa lulus tanpa nunggu surat teguran dari kampus. Artinya bagaimana masing-masing kita mengelola masalah yang ada dan berusaha mengurai satu-satu untuk mendapat solusi terbaik. Semangat gengs!.
 
2. Aktif di berbagai organisasi mahasiswa, hal ini kadang menimbulkan polemik bagi mahasiswa yang memilih sebagai aktivis organisasi baik di kampus maupun di luar kampus, membagi waktu antara perkuliahan dan kegiatan organisasi kadang seperti di suruh memilih untuk menjadi jomblo tapi keren atau ga jomblo tapi ga keren.Keterlibatan mahasiswa aktivis ini kalau dari versi dosen (aku ngalamin sekarang diposisi sebagai dosen) kaya upaya dari mahasiswa untuk menghindari tugas-tugas perkuliahan dengan dalih banyak urusan yang harus diselesaikan dalam organisasi mahasiswa yang diikutinya. Padahal harusnya faham kalau tujuan awal kuliah ya belajar, dan sesegera mungkin bisa lulus dengan nilai terbaik, kasian kan orangtua yang udah membiayai dari mulai belum tumbuh kumis sampai sudah jenggotan kok ya ga lulus-lulus?.

3. Bekerja sambil kuliah. karena sebab tertentu, bisa saja mahasiswa menjalani perkuliahan dengan sambil bekerja. Seperti mencari pengalaman atau untuk para pejuang kost dengan bekerja bisa meringankan beban oramgtua dalam mengirim uang saku bagi dirinya. Hal ini sih sepertinya ga masalah andai aja mahasiswa yang bekerja sejak awal memutuskan untuk bekerja bisa mempertimbangkan juga waktu untuk kuliah dan mengerjakan tugas-tugas perkuliahan. Artinya harus siap juga lebih cape dari yang ga nyambi kerja. Nyaris ga ada waktu leha-leha kan?. Tapikan nanti se lulusnya dari kampus sudah punya pengalaman bekerja. Seru deh.

4. Menikah masih dalam masa perkuliahan. Menikah muda tentu bukan hal yang salah. Tapi memang menikah dalam masa-masa kuliah juga bukan hal yang mudah dijalani. Penulis ngalamin banget ini, menikah di semester lima pas perkuliahan lagi hectic-hecticnya sungguh menguras airmata dan darah. Plus langsung hamil anak pertama. Banyak juga teman-teman yang senasib kala itu akhirnya memilih untuk DO atau akhirnya malah ga lulus-lulus karena berbenturan dengan konsekuensi dari keputusan dalam sebuah pernikahan ini. Tapi jika sejak awal kedua pasangan sudah membicarakan segala macam konsekuensinya sih harusnya ga terlalu bikin pusing karena idelanya dengan adanya pasangan yang bisa mendampingi selama 24 jam, perkuliahan akan lebih mudah, tugas ada yang bantuin, tugas praktek ada yang bantu ngoprek juga, bimbingan skripsi ada supir halal yang siap antar jemput, UKT ada yang bayarin, jajan ga jadi nyesek karena sering kehabisan pas jam kuliah harus seharian bahkan begadang ngetik aja rela dijabanin pasangan (eh ini kalo yang menikah versi mbak-mbak yaa). Harusnya emang begitu. Menikah itu memudahkan. Dan jika plus minusnya sudah dibicarakan jauh-jauh hari dengan calon pasangan, insyaAllah akan mudah deh jalaninnya pas dalam pernikahan. Trust me, saya pelakunya.

     Kayana empat hal itu cukup deh mewakili deh hal-hal yang bisa membuat mahasiswa berlama-lama di kampus dari banyak sebab lainnya lagi. Yang padahal lagi-lagi jika membuat skala prioritas, membuat rencana matang dengan membuat beberapa plan, agar jika gagal plan 1 bisa menjalankan plan lainnya. Intinya apapun halangan itu, kalau sudah berazzam untuk cepat lulus, insyAllah akan bisa kok lulus tepat waktu. Hayu atuh gengs...lulus cepet.


 
Catt: Foto pemanis mengenang masa-masa perjuangan itu

Rabu, 01 September 2021

Rindu Ini Menemukan Muaranya



Hari ini, sepertinya akan banyak yang membuat status atau caption tentang dimulainya pembelajaran tatap muka terbatas.

Sama sepertinya yang akan aku tulis di sini. Sebagai guru, yang merindukan siswa-siswanya hadir dalam kelas-kelas nyata, menyambut baik sejak awal rencana ini dicanangkan 

Bahkan, aku rasa, seluruh siswa, orangtua bahkan seluruh komponen negeri ini juga merindukan kondisi belajar sebagaimana kita dulu pernah merasakan belajar di sekolah. Dengan berbagai romantikanya.

Di tempatku mengajar, baru hari ini memulai PTM. Sejak semalam mulai membayangkan bahagianya bertatap langsung dengan wajah-wajah yang sarat dengan rasa keingintahuan yang besar terhadap ilmu, memiliki harapan yang tinggi terhadap masa depan.

Memasuki halaman sekolah, screening kesehatan tetap dilaksanakan secara ketat, tanpa bosan menyampaikan untuk tetap menggunakan masker dan jangan berkerumun.

Meski setiap kelas hanya berisi 12 siswa, tapi ruh sekolah mulai terlihat menggeliat. Melihat halaman sekolah mulai ada deretan kendaraan roda dua yang bisanya kalaupun aku harus ke sekolah, hanya berisi beberapa kendaraan dari para guru dan karyawan yang memang harus ke sekolah menyelesaikan tugas-tugasnya.

Ah, rindu ini mulai menemukan muaranya, meski hanya sedikit, tapi setidaknya optimisme akan tumbuhnya semangat untuk berubah ke arah lebih baik terus menyala walau sempat redup.

Sehat selalu Indonesiaku 🇮🇩

  MODUL AJAR MANUSIA, RUANG DAN LINGKUNGAN     I.           IDENTITAS MODUL                                                 ...